Indonesia melaporkan kasus COVID-19 pertama pada tanggal 2 Maret 2020, dan sampai hari ini, angka kasus COVID-19 yang terkonfirmasi serta angka kematian yang dilaporkan menunjukkan peningkatan yang signifikan. Salah satu pemodelan epidemiologi situasi COVID-19 di Indonesia memperkirakan bahwa jumlah keseluruhan kasus COVID-19 dapat mencapai 2,5 juta kasus jika tidak dilakukan intervensi tambahan selain deteksi kasus, investigasi kontak dan isolasi mandiri (yang merupakan intervensi rutin untuk kasus COVID-19). Lebih lanjut, dari pemodelan tersebut juga disimpulkan bahwa kasus COVID-19 dapat ditekan hingga 600.000 kasus jika intervensi “intensitas tinggi (high-intensity)” juga dilaksanakan bersamaan dengan tatalaksana rutin. Intervensi intensitas tinggi yang dimaksud adalah tes massal dengan cakupan yang luas serta pembatasan jarak sosial wajib.

Tim DPPM melakukan kunjungan monitoring dan supervisi ke salah satu fasilitas kesehatan, yaitu RS Graha Medika Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan yang dilakukan pada tanggal 31 Agustus 2020 ini sebagai upaya tindak lanjut kesepakatan hasil pertemuan penguatan jejaring TBC di tahun sebelumnya. Sebanyak 12 peserta yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi dan perwakilan Rumah Sakit Graha Medika hadir dalam pertemuan ini.

Pengembangan vaksin COVID-19 tengah dilakukan oleh banyak negara guna memutus rantai penyebaran COVID-19. Lebih dari 170 vaksin virus corona tengah berada dalam tahap penelitian, termasuk 7 calon vaksin yang telah memasuki uji coba tahap 3. Dilansir dari kompas.com saat ini negara-negara mulai membuat perjanjian sepihak dengan perusahaan farmasi untuk mengamankan suplai vaksin COVID-19. Hal ini tentu berdampak pada potensi ketimpangan akses vaksin dunia, terutama bagi negara-negara miskin dan berkembang.

Dalam rangka mencapai target Three Zero HIV tahun 2030 yang meliputi zero new HIV infection, zero AIDS related death, dan zero discrimination, pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk melakukan pendekatan fast track 90-90-90, yaitu 90% orang yang memiliki perilaku berisiko mengetahui status HIV-nya, 90% orang dengan HIV positif mendapat pengobatan ARV dan 90% orang yang minum ARV mengalami supresi virus. Namun, perlu diketahui bahwa di Indonesia capaian indikator 90% yang ketiga masih jauh dari target. Oleh sebab itu, Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) melaksanakan akselerasi pemeriksaan viral load HIV melalui proyek AMPUH dan salah satu dukungan yang diberikan oleh proyek AMPUH adalah dengan penyediaan Bahan Habis Pakai (BHP).

Halaman 2 dari 47