Sebelum pandemi COVID-19, upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) oleh sejumlah negara cenderung stabil. Hal ini terlihat dari penurunan insiden sebesar 9% dan penurunan angka kematian sebesar 14% antara tahun 2015 sampai 2019. Termasuk juga adanya komitmen politik tingkat tinggi di tingkat global dan nasional. Di negara Indonesia sendiri, komitmen ini diwujudkan dengan penyelenggaraan acara Gerakan Maju Bersama Menuju Eliminasi Tuberkulosis (TBC) 2030 pada bulan Januari 2020 di Cimahi dan turut dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo serta sejumlah pemerintah daerah dari seluruh Indonesia.

Pemeriksaan viral load HIV sangat penting bagi Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) yang menjalani terapi ARV. Tujuannya adalah untuk memantau keberhasilan pengobatan. Pemeriksaan ini dilakukan setelah ODHA minum ARV selama 6 bulan dan 12 bulan pertama, 24 bulan dan seterusnya setiap satu tahun sekali.

Orang yang terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis akan mengalami gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Apabila gangguan ini bertambah berat maka akan menyebabkan penurunan status gizi yang ditandai dengan berkurangnya asupan makanan. Status gizi yang rendah dan ketidakmampuan meningkatkan berat badan selama terapi dapat berdampak pada resiko kematian, terjadinya TBC kambuhan, respon terapi yang tidak adekuat, beratnya penyakit TBC atau adanya penyakit penyerta.

Indonesia berdasarkan Global TB Report 2019 menjadi salah satu negara dengan penyumbang kasus TBC Paru dan kematian oleh penyakit tuberkulosis.  Meski demikian penyakit yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis ini dapat disembuhkan dengan mengkonsumsi obat anti-TBC (OAT) secara rutin, yaitu selama 6-9 bulan. Adapun pengobatan TBC yang biasa diberikan kepada pasien TBC terdiri atas kombinasi antibiotik jenis rifampisin, isoniazid, pirazinamid, ethambutol dan streptomisin. 

Halaman 1 dari 55